Selasa, 21 Februari 2012

Syarah Hadith: “Tiga Perkara Yang Mengikuti Jenazah”


عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( يتبع الميت ثلاث فيرجع اثنان ويبقى واحد يتبعه أهله وماله وعمله فيرجع أهله وماله ويبقى عمله ) رواه البخاري ومسلم .

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“ Si mati itu diikuti oleh tiga golongan. Akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya. Dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya ”. [1]

Hadith ini telah dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali di dalam risalah yang sangat berharga. Dia berkata: “Tafsir hadith ini adalah bahawa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya dan juga harta sebagai bekal hidupnya. Dua teman ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai jalan untuk berzikir kepada Allah SWT, dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu untuk kehidupan akhirat, dia mencari isteri yang solehah yang boleh menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah SWT maka dia temasuk orang yang rugi.

Sebagaimana firman Allah SWT tentang orang-orang Badwi:

شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا

"Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami…”. (QS. Al-Fath: 11).

Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.. (QS. Al-Munafiqun: 9).

Diriwayatkan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak dari hadith Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

)أتاني جبريل فقال : يا محمد ! عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس(

Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata: Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau pasti akan mati, cintailah siapa yang engkau kehendaki sebab engkau akan meninggalkannya, dan berbuatlah apa yang engkau kehendaki sebab engkau akan mendapat balasannya, kemudian dia berkata: Wahai Muhamad kemulian seorang mu’min ada pada saat qiamullail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya pada manusia”.[2].

Maka apabila anak Adam mati, dan meninggalkan dunia ini maka dia tidak mengambil manfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali do’a keluarga baginya, permohonan ampun mereka untuk dirinya dan perbuatan-perbuatan yang dijelaskan oleh syara’ yang boleh mendatangkan manfaat untuk dirinya serta apa yang di keluarkan dari hartanya untuk manfaat dirinya.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(iaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Al-Asyu’ara: 88-89.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاء ظُهُورِكُمْ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu;…”.

(QS. Al-An’am: 94).

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari hadith Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

Apabila anak Adam meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga hal Sedekah jariah, ilmu yang bermanafaat dan anak soleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya”.[3]

Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdo’a baginya seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Boleh jadi keluaraganya tidak berdo’a baginya, sebab boleh jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang soleh: Keluargamu sibuk membahagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdo’a untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu.

Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (QS. Al-Tagabun: 14).

Adapun teman yang kedua adalah harta, maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahawa harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.

Diriwayatkan oleh Muslim dari hadith Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rosak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”.[4]

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari hadith Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

Siapakah di antara kamu yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta dirinya sendiri?. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun di antara kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Baginda saw bersabda: Sesungguhnya harta miliknya yang sebenarnya adalah apa yang telah dipersembahkan (sebagai amal soleh) sementara harta pewarisnya adalah apa yang ditinggalkan”.[5]

Seorang pembesar berkata kepada Abi Hazim yang hidup zuhud: Kenapa kita membenci kematian? Dia menjawab: Kerana engkau mengagungkan dunia, engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya untuk akhiratmu nescaya engkau akan senang menggunakannya untuk mengejarnya.

Allah SWT berfirman:

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imron: 92)

Ibnu Umar tidak bangga kepada hartanya kecuali apa yang telah dipersembahkannya sebagai amal soleh kerana Allah SWT, sehingga pada suatu ketika pada saat dia menunggang seekor unta, lalu dia kagum dengannya, maka diapun segera turun darinya dan mengheretnya lalu menjadikannya sebagai sedekah di jalan Allah SWT.

Adapun teman yang ketiga, ia adalah amal yang mengikuti pemiliknya ke dalam kubur dan hidup bersamanya dalam kubur tersebut, dia bersamanya pada saat dibangkitkan menghadap Allah SWT. Amal itu menyertainya pada saat dikumpulkan di padang mahsyar, di atas shirat, pada saat ditimbang dan dengan amal itu pula seseorang akan memperolehi tingkat kedudukannya di syurga atau di neraka. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Siapa yang mengerjakan amal yang soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).

(QS. Fushilat: 46).

Allah SWT berfirman:

مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Siapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barang siapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).

(QS. Al-Rum: 44)

Sebahagian ulama salaf berkata:

“Bekerjalah untuk kepentingan duniamu sebatas lamanya masa kamu menetap padanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu selama kamu tinggal padanya.

Al-Hasan berkata:

“Seorang lelaki dari kaum muslimin mengikuti jenazah saudaranya lalu pada saat jenazah diturunkan di dalam liang kuburnya lelaki itu berkata: Aku tidak mengetahui yang mengikutimu dari dunia ini kecuali tiga helai kain, demi Allah aku meningalkan rumahku dengan barang-barang yang begitu banyak, demi Allah seandainya aku diberi kesempatan untuk pulang ke rumah nescaya aku akan sedekahkan rumahku untuk kepentingan diriku. Al-Hasan berkata: Maka lelaki itupun kembali dan mensedekahkannya. Dan mereka tahu bahawa orang itu adalah Umar bin Abdul Aziz”.



[1] Sahih Bukhari: 4/194 no: 6514 dan shahih Muslim: 4/2273

[2] Mustadrakul hakim: 4/360 dan Al-Mundziri di dalam kitab: Al-Targib wat tarhib 1/485: HR. Thabrani fil awsath dengan sanad yang hasan, dan sahihkan oleh Al-Bani rahimhullah di dalam sahihul jami’: 1/76 no: 73.

[3] Sahih Muslim, halaman: 670 o: 1631

[4] Sahih Muslim, halaman: 1187 no: 2958

[5] Sahihul Al-Bukhari, halaman: 1236 no: 6442

Tiada ulasan:

Catat Ulasan