Ahad, 19 Februari 2012

Tafsir Surah Al Falaq

Di antara surah Al-Qur’an yang sering terdengar pada telinga kita dan penting untuk direnungi dan difikirkan adalah surah Al-Falaq:

قال تعالى: ]قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِن شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [

Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhlukNya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gelita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada ikatan-ikatan, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia berdengki".

(QS. Al-Falaq: 1-5)

Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha :

Bahwa sesungguhnya apabila Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terkena suatu penyakit maka beliau membaca Al-Mu’awwidzat untuk dirinya, lalu meniup padanya. Pada saat baginda saw sakit teruk maka akulah yang membacakan Mu’awwidzat lalu meniupkannya pada tangannya guna mengharap keberkatannya”.[1]

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha;

Bahawa apabila Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hendak berbaring pada tempat tidurnya pada setiap malamnya maka baginda saw mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya dan membaca:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Lalu baginda saw mengusap dengannya bahagian tubuh yang mampu diusapnya dimulai dari bahagian kepala dan wajah, lalu bahagian depan dari badan. Hal itu baginda saw lakukan selama tiga kali”.[2]

Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Uqbah bin Amir berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidakkah engkau mengetahui beberapa ayat yang diturunkan kepadaku pada malam hari yang tidak ada ayat yang diturunkan sepertinya?.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ [3]

Tafsir:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

Aku berlindung dan berpegang kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh, dan maknanya mencakupi lebih luas dari makna waktu subuh. Sebab kata “الْفَلَقِ” bermakna segala sesuatu yang dibelah oleh Allah baik waktu pagi dengan menyinsingkannya atau membelah butiran dan biji-bijian dengan menumbuhkannya, sebgaiamana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

قال تعالى: ] إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى [

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji

buah-buahan.

(QS. Al-An’am: 95)

قال تعالى: ]فَالِقُ الإِصْبَاحِ [

Dia menyingsingkan pagi”. QS. Al-An’am: 96.

قال تعالى: ] مِن شَرِّ مَا خَلَق [َ

Ertinya dari kejahatan semua makhluk bahkan kejahatan diri, sebab hawa nafsu memerintahkan kepada yang buruk.

Disebutkan di dalam sebuah hadith: kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami. Dan kalimat “dari kejahatan makhluk -Nya”, mencakupi kejahatan syaitan, manusia dan jin serta bintang-binatang dan lain-lain.

قال تعالى: ] وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [

“Al-Gasiq” makananya adalah malam, dikatakan pula maknanya adalah bulan, dan yang benar adalah maknanya secara umum yang mencakupi apa yang telah disebutkan di atas. Adapun kata tersebut dimaknai dengan kata malam berdasarkan pada firman Allah:

قال تعالى: ] أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ [

Dirikanlah salat dari sesudah mata hari tergelincir sampai gelap malam.

(QS. Al-Isro’: 78)

Pada waktu malam banyak bintang buas yang keluar, oleh kerana itulah dianjurkan berlindung dari kejahatan yang terjadi pada waktu malam.

Adapun memaknai kata “Al-Ghasiq” dengan maksud bulan, didasarkan pada hadith riwayat Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Aisyah;

Bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melihat ke arah bulan dan bersabda: Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan bulan ini, sebab inilah yang sebut dengan ghasiq. Sebab kekuasaannya terjadi pada waktu malam. Apabila malam telah masuk maka hari menjadi gelap gelita. Begitu juga dengan bulan saat memancarkan cahayanya maka terjadi saat kegelapan tiba dan hal itu tidak akan terjadi kecuali pada waktu malam.

قال تعالى: ] وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ [

Kerana itulah adalah para tukang sihir yang mengikat tali dan yang lainnya. Mereka meniup pada ikatan-ikatan tersebut sambil membaca jampi-jampi yang menyebut nama-nama syaitan pada setiap ikatan, kemudian kembali meniupnya lalu mengikatnya lalu kembali meniup mentera padanya, dan dengan jiwanya yang kotor tersebut berniat untuk menyihir seseorang sehingga terkesan buruk bagi orang yang terkena sihir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan dengan lafaz “Al-Naffatsat” bentuk jamak untuk wanita tidak menggunakan bentuk jamak laki-laki yaitu kata Al-Naffatsin sebab biasanya yang banyak menggunakan sihir jenis ini adalah para wanita, oleh kerana itulah Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:

[ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ] .

Kerana boleh juga bererti jiwa-jiwa yang menghembus, dan penafsiran dengan makna ini mencakup lelaki dan wanita.

Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq bernama Lubaib bin Al-A’sham. Aisyah berkata bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasa berbuat sesuatu padahal baginda saw tidak melakukannya, sehingga pada suatu saat beliau berdo’a dan terus berdo’a baginda saw bersabda: Wahai Aisyah apakah engkau mengetahui bahawa Allah telah memberikan jawapan terhadap perkara yang aku minta jawapannya?.

Aku telah didatangi oleh dua orang lelaki salah seorang dari mereka duduk di sisi kepalaku dan yang lain di sisi kakiku. Lelaki yang berada di sisi kepalaku berkata kepada lelaki yang berada di sisi kakiku atau lelaki yang berada di sisi kakiku berkata kepada lelaki yang berada di sisi kepalaku: Penyakit apa yang dirasakan oleh lelaki ini?.

Lelaki yang lain menjawab: Dia sedang terkena sihir. Jawabnya. Lelaki itu bertanya kembali: Siapakah yang menyihirnya?. Yang lain menjawab: Lubaid bin Al-A’sham. Lelaki itu kembali bertanya: Pada apakah dia terkena sihir? dengan menggunakan sebuah sisir dan rambut. Dan dia berkata: dan menggunakan kuncup bunga kurma jantan. Dia bertanya kembali: Di manakah dia?. Lelaki yang lain berkata: “Pada sumur Arwan”.

Aisyah berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama para sahabat baginda saw kemudian bersabda:

Wahai, demi Allah airnya seakan air dari campuran pacar (warna merah), dan kurma yang tumbuh padanya seakan kepala syaitan”.

Aku berkata: Wahai Rasulullah apakah engkau tidak membakarnya?. Baginda saw bersabda: Tidak, sebab Allah telah menyembuhkan diriku dan aku benci mengungkit keburukan di tengah masayarakat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil sihir tersebut lalu ditimbunnya”.[4]

Firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

] وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [

Al-Hasid (orang yang dengki) adalah orang yang tidak suka nikmat Allah berada pada orang lain, engkau akan mendapatkan orang yang terjangkiti penyakit ini, dengan tanda-tanda dia akan merasa tidak senang jika dia melihat nikmat Allah Subahanahu Wa Ta’ala berada pada seseorang baik berupa harta, jawatan, ilmu dan yang lainnya dan dengan hal itu dia akan menjadi orang yang dengki.

Hasad ada dua macam: Jenis hasad di mana seseorang benci melihat nikmat Allah Subahanahu Wa Ta’ala berada pada seseorang namun dia tidak bertindak yang membahayakan orang yang didengkinya. Kedengkiannya menjadikannya bimbang dan bingung kerana nikmat yang diberikan oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala kepada orang lain. Bencana yang paling besar adalah kesan negatif orang yang dengki pada saat dia dengki.

Oleh kerana itu, Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:

حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

Di antara kesan negatif orang yang dengki saat dia dengki adalah penyakit ain yang boleh mengenai orang yang dia iri padanya. Sebab hal itu biasanya tidak muncul kecuali dari orang yang memiliki tabiat yang buruk dan berjiwa busuk.

Dan penyakit ain ini, seperti yang disebutkan di dalam hadits yang shahih di dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Ain itu benar adanya, seandainya ada sesuatu yang mendahului qodar maka sungguh penyakit ainlah yang pasti mendahuluinya”.[5]

Diriwayatkan oleh Ibnu Adi di dalam kitab Al-Kamil dari Jabir bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya penyakit ain ini sungguh menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam kubur dan menyebabkan unta dimasak di dalam kawah ”.[6]

Al-Munawi berkata: maksudnya adalah boleh menyebabkan dirinya terbunuh sehingga menjadikan dirinya masuk ke dalam kubur dan menyebabkan unta dimasukkan ke dalam kawah, maksudnya adalah jika unta tersebut terkena oleh penyakit ain, atau dengan sebab penyakit ain tersebut unta itu hampir mati yang akhirnya mendorong pemiliknya untuk menyembelihnya dan memasaknya di dalam kawah.

Hal ini bererti ain adalah penyakit yang menyebabkan kematian. Maka seharusnya bagi orang yang menjadi sumber penyakit ain untuk segera menanggulangi ain tersebut dengan mengucapkan kata-kata yang menjunjung ketinggian Allah dan kata-kata ini menjadi ruqyah bagi penyakit ain tersebut”.[7]

Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa’’id Al-Khudri bahwa Jibril mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan berkata:

Wahai Muhammad sepertinya engkau merasakan suatu penyakit?. Maka baginda saw bersabda: Benar maka Jibril meruqyah baginda saw dengan membaca:

(( بسم الله أرقيك من كل شيئ يؤذيك ومن شر كل نفس أو عين حاسد الله يشفيك، بسم الله أرقيك ))

Dengan Nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari keburukan setiap jiwa dan ain yang dengki. Allah yang memberikan kesembuhan bagimu dengan nama Allah aku meruqyahmu”.[8]

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman malam apabila telah gelap gelita, wanita-wanita yang menghembus pada ikat-ikatan dan orang yang dengki apabila dia dengki, sebab bencana yang ditimbulkan oleh tiga hal ini bersifat samar. Maka hendaklah bagi orang yang beriman untuk menggantungkan hatinya hanya kepada Allah subhanahu wata’alla, menyerahkan segala urusannya kepada Allah subhanahu wata’alla dan bertawakkal kepada -Nya, serta mempergunakan wirid-wirid yang syar’I untuk menjaga dirinya dari kejahatan para tukang sihir, orang–orang yang dengki dan selain mereka.[9]



[1] Al-Bukhari no: 5016 Muslim no: 2192

[2] Al-Bukhari no: 5017

[3] Muslim: 814

[4] Shahih Muslim: 2189 dan shahih Bukhari: 3268

[5] Muslim: 2188

[6] Al-Kamil fidhuafa’ir rijal: 6/408 dan syekh Nasiruddin Al-Albani berkata: hadish hasan. Lihat Shahihul Jami’us Shagir 2/761 no: 4144

[7] Faidhaul Qadir: 397

[8] HR. Muslim no: 2186

[9] Lihat tafsir Juz Amma, karangan syekh Al-Utsaimin rahimhullah halaman 302-304.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan