Selasa, 22 Disember 2009

Pemikiran Dr. Yusuf Qaradhawi : Fiqh Keutamaan Dari Perspektif Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Fiqh Keutamaan sebuah topik yang dianggap sangat penting, kerana ia memberikan penyelesaian terhadap ketidakseimbangan – dari sudut pandang syara’- dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu isu, pemikiran dan tindakan; mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain; mana perkara yang perlu didahulukan, dan mana pula perkara yang perlu diakhirkan; perkara mana yang harus diletakkan dalam urutan pertama, dan perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah Tuhan dan petunjuk Nabi saw. Persoalan ini begitu penting terutama apabila pertimbangan Keutamaan ini telah semakin hilang dan terhakis dari kaum Muslimin pada zaman kita sekarang ini.

Sebelum ini disebut dengan istilah "fiqh turutan amal" namun sekarang ini dikenal pasti istilah yang lebih tepat, yaitu "Fiqh Keutamaan" kerana istilah yang disebut terakhir lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.

Kajian ini sebenarnya bermaksud untuk menyoroti sejumlah keutamaan yang terkandung di dalam ajaran agama, berasaskan dalil-dalilnya, agar dapat memainkan peranannya di dalam meluruskan pemikiran, memperbetulkan metodologi, dan meletakkan landasan yang kuat bagi fiqh ini.

Semoga pejuang Islam dan pembuat dasar mengenainya memperolehi petunjuk darinya, kemudian dapat membezakan apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan. Apa yang dianggap berat dan apa pula yang dianggap ringan; dan apa yang dianggap besar oleh agama dan apa pula yang dipandang remeh. Dengan demikian, tidak akan ada lagi orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran, atau sebaliknya, mengabaikan tuntutan. Pada akhirnya, fiqh ini mampu mengurangkan jurang perbezaan kepelbagaian pandangan antara orang-orang yang memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.

Maksud FIQH KEUTAMAAN :

"Fiqh Keutamaan" (fiqh al-awlawiyyat) bermaksud meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari'ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal.

" Cahaya di atas cahaya"(an-Nuur: 35)

Ini supaya sesuatu yang tidak penting, tidak didahulukan atas sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu kurang utama tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama.

Sesuatu yang semestinya didahulukan harus didahulukan, dan yang semestinya diakhirkan harus diakhirkan. Sesuatu yang kecil tidak perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di tempatnya dengan seimbang dan lurus, tidak lebih dan tidak kurang.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

"Dan Allah SWT telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (ar-Rahman:7-9)

Dasarnya ialah nilai, hukum, pelaksanaan, dan pemberian beban kewajiban menurut pandangan agama ialah berbeza-beza satu dengan lainnya. Semuanya tidak berada pada satu tingkat. Ada yang besar dan ada pula yang kecil; ada yang pokok dan ada pula yang cabang; ada yang berbentuk rukun dan ada pula yang hanya sekadar pelengkap; ada persoalan yang menduduki tempat utama tetapi ada pula yang hanya merupakan persoalan pinggiran; ada yang tinggi dan ada yang rendah; serta ada yang utama dan ada pula yang tidak utama.

Persoalan seperti itu telah dijelaskan di dalam nas al-Qur'an, sebagaimana difirmankan Allah SWT:

"Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi darjatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (at-Taubah, 19-20)

Di samping itu Rasulullah saw juga bersabda,

"Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih; yang paling tinggi di antaranya ialah 'la ilaha illa Allah,' dan yang paling rendah ialah 'menyingkirkan gangguan dari jalan.'"1

Para sahabat Nabi saw memiliki keinginan tinggi untuk mengetahui amalan yang paling utama, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh kerana itu banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan kepada baginda Nabi saw mengenai amalan yang paling mulia, amalan yang paling dicintai Allah SWT; sebagaimana pertanyaan yang pernah dikemukakan oleh Ibn Mas'ud, Abu Dzarr, dan lain-lain. Jawaban yang diberikan Nabi saw atas pertanyaan itupun banyak sekali, sehingga tidak sedikit hadith yang dimulai dengan ungkapan 'Amalan yang paling mulia..."; dan ungkapan 'Amalan yang paling dicintai Allah ialah."2

Dalam sebuah hadith diriwayatkan dari 'Amr bin Abasah r. a. berkata bahwa ada seorang lelaki, yang berkata kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah apakah Islam itu? " Beliau menjawab, "Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah, dan selamatnya kaum Muslim dari lidah dan tanganmu." Lelaki itu bertanya lagi: "Manakah Islam yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Iman." Lelaki itu bertanya lagi: "Apa pula iman itu?" Beliau menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah mati." Lelaki itu bertanya lagi: "Manakah iman yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Berhijrah." Lelaki itu bertanya lagi. "Apakah yang dimaksud dengan berhijrah itu?" Rasulullah saw menjawab, "Engkau meninggalkan keburukan." Lelaki itu bertanya kembali: "Manakah hijrah yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Jihad." Dia bertanya lagi: "Apakah yang dimaksud dengan jihad itu?" Beliau menjawab, "Hendaklah engkau memerangi orang-orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka." Dia bertanya lagi: "Jihad mana yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Jihad orang yang mempersembahkan kuda dan darahnya."3

Sesiapa yang mahu meneliti apa yang dinyatakan di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah dalam masalah ini, dia akan menemui jawaban atas pertanyaan tersebut atau penjelasan mengenai hakikat ini. Dia akan melihat bahwa beberapa ukuran yang berkaitan dengan penjelasan amalan, nilai, dan kewajiban yang paling utama, paling baik, dan paling dicintai Allah SWT telah diletakkan di depan kita.

Misalnya:

"Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan."4

"Satu dirham dapat menandingi seratus dirham."5

"Berjaga dalam jihad selama sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa dan qiyamul-lail selama sebulan."6

"Sesungguhnya penyertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun."7

Sebaliknya, ada juga ukuran yang berkaitan dengan penjelasan mengenai pelbagai perbuatan buruk, dengan berbagai tingkat perbedaannya di sisi Allah SWT; berupa dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil; perkara yang syubhat dan perkara makruh.

Kadang-kadang sebagian perbuatan ini dikaitkan satu dengan lainya seperti:

"Satu dirham barang riba yang dimakan oleh seseorang, dan dia mengetahui bahwa itu adalah riba, maka dosa itu lebih berat di sisi Allah SWT daripada tiga puluh enam kali zina."8

Kita juga diperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan jahat daripada yang lainnya, atau yang lebih buruk daripada perbuatan lainnya. Seperti hadith: "Sesuatu yang paling buruk yang ada di dalam diri seseorang ialah sifat kedekut yang melampau, dan sifat pengecut."9

"Seburuk-buruk manusia ialah orang yang meminta dengan sumpah atas nama Allah, kemudian dia tidak diberi."10

"Seburuk-buruk umatku ialah mereka yang paling banyak cakapnya, bermulut besar, dan berlagak pandai; dan sebaik-baik umatku ialah mereka yang paling baik akhlaknya."11

"Manusia yang dianggap sebagai pencuri paling hebat ialah orang yang mencuri shalatnya, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya; sedangkan manusia yang paling kedekut ialah orang yang paling enggan untak mengucapkan salam."12

Al-Qur'an juga telah menjelaskan bahwa darjat manusia itu tidak sama meskipun kemanusiaan mereka sama, kerana mereka sama-sama diciptakan sebagai manusia. Akan tetapi, sesungguhnya ilmu dan amal perbuatan mereka sama sekali berbeza satu dengan lainnya. Al-Qur'an mengatakan: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu..." (al-Hujurat: 13)

"... Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?..." (az-Zumar: 9)

"Tidaklah sama antara Mu'min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu darjat. Kepada setiap mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.beberapa darjat dari-Nya, keampunan serta rahmat. Dan adalah Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(an-Nisa: 95-96)

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gelita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati" (Fathir: 19-22)

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganinya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah..." (Fathir: 32)

Begitulah kita dapati bahwa manusia berbeza satu dengan lainnya dan mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lainnya. Amal perbuatan mereka berbeza; dan yang membezakan kedudukan mereka satu sama lainnya ialah ilmu, amal, ketaqwaan, dan perjuangannya.

Catatan kaki:

1. Hadith ini diriwayatkan oleh al-Jama'ah dari Abu Hurairah; Bukhari meriwayatkannya dengan lafaz "enam puluh macam lebih"; Muslim meriwayatkannya dengan lafaz "tujuh puluh macam lebih" dan juga dengan lafaz "enam puluh macam lebih" Tirmidzi meriwayatkannya dengan "tujuh puluh macam lebih" dan begitu pula dengan an-Nasa'i. semuanya terdapat dalam kitab al-Iman; cuma Abu Dawud meriwayatkannya dalam as-Sunnah; dan Ibn Majah dalam al-Muqaddimah.

2. Contoh-contoh hadith seperti ini ialah:

"Shadaqah yang paling utama ialah shadaqah yang engkau berikan ketika engkau dalam keadaan sihat dan sangat memerlukannya; ketika engkau bimbang menjadi miskin dan berangan-angan untuk menjadi orang kaya.";

"Perjuangan yang paling utama ialah menyampaikan ucapan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.";

"Amalan yang paling dicinta oleh Allah ialah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun amalan itu sedikit.";

"Sebaik-baik amalan agamamu ialah yang paling mudah diamalkan."

3. al-Mundziri berkata dalam at-Targhib wat-Tarhib, "Hadith ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad yang shahih, yang para rawinya boleh dianggap shahih; dan juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dan lain-lain. Sedangkan al-Haitsami (2:207) mengatakan, "Hadith ini diriwayarkan oleh Ahmad dan at-Thabrani, dengan rijal al-hadith yang shahih.

4. Diriwayatkan secara Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar; sebagaimana disebutkan dalam al-Lu'lu' wa al-Marjan (381)

5. Hadithnya secara lengkiap adalah sebagai berikut: "Ada seorang lelaki yang memiliki dua dirham, kemudian dia mengambil satu dirham untuk dishadaqahkan (dengan arti bahwa orang ini bershadaqah dengan separuh harta yang dia miliki dan sangat dia perlukan); kemudian ada lelaki lain sangat kaya raya. Dia mengambil sebagian kekayaannya sejumlah seratus ribu dirham untuk dishadaqahkan. Diriwayatkan oleh an-Nasa'i (5:95); Ibn Huzaimah (3443); Ibn Hibban (3347); dan al-Hakim dari Abu Hurairah yang dianggap shahih menurut syarat yang ditetapkan oleh Muslim, kemudian disepakati oleh adz-Dzahabi(1:416)

6. Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Turmudzi, dari Salman, dan Ahmad bin Abdullah bin 'Amr; seperti yang dijelaskan di dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3480); (3481); dan (3483).

7. Diriwayatkan oleh Turmidzi dari Abu Hurairah, yang dianggap sebagai hadith hasan (1350); dan diriwayatkan oleh al-Hakim dan di-shahih-kan olehnya menurut syarat yang telah ditetapkan oleh Muslim, yang sekaligus disepakati oleh adz-Dzahabi(2:68). Ada pula yang mengatakan bahwa lafaz hadith ini ialah "enam puluh tahun" seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Umamah.

8. Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani dari Abdullah bin Hanzhalah, sebagaimana dimuat dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3375).

9. Diriwayatkan okh al-Bukhari dalam at-Tarikh, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a. (Ibid., 3709)

10. Diriwayatkan oleh Ahmad. as-Syaikhani. Tirmidzi, Ibn Hibban dari Ibn 'Abbas (Ibid., 3708).

11. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah r.a. (ibid., 2740).

12. Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Ausath, dari Abdullah bin Maghfal, (ibid., 966).


Ahad, 20 Disember 2009

Teladan Perjuangan Dari Kisah Thalut Dan Jalut.



قال تعالى:﴿ أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُواْ لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلاَّ تُقَاتِلُواْ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْاْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ{ 246} وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوَاْ أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {247} وَقَالَ لَهُمْ نِبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلآئِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ { 248}فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَّ مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُواْ مِنْهُ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ قَالُواْ لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو اللّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللّهِ وَاللّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ {249} وَلَمَّا بَرَزُواْ لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُواْ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ {250} فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاء وَلَوْلاَ دَفْعُ اللّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الأَرْضُ وَلَكِنَّ اللّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ {251} تِلْكَ آيَاتُ اللّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ{252} ﴾.

Maksud:

[246] Tidakkah engkau ketahui (wahai Muhammad), tentang (kisah) ketua-ketua dari Bani lsrail sesudah (wafatnya) Nabi Musa, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: Lantiklah seorang raja untuk kami supaya boleh kami berperang (bersama-sama dengannya) pada jalan Allah Nabi mereka menjawab: Tidakkah harus, jika kamu kelak diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang?, Mereka berkata: Mengapa pula kami tidak akan berperang pada jalan Allah, sedang kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dari) anak-anak kami? Maka apabila perang itu diwajibkan atas mereka, mereka membelakangkan kewajipan itu, kecuali sebahagian kecil dari mereka dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.

[247] Dan Nabi mereka pula berkata kepada mereka: Bahawasanya Allah telah melantik Talut menjadi raja bagi kamu. Mereka menjawab: Bagaimana dia mendapat kuasa memerintah kami sedang kami lebih berhak dengan kuasa pemerintahan itu daripadanya dan dia pula tidak diberi keluasan harta kekayaan? Nabi mereka berkata: Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Talut) menjadi raja kamu dan telah mengurniakannya kelebihan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kegagahan tubuh badan dan (ingatlah), Allah jualah yang memberikan kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmatNya dan pengurniaanNya), lagi meliputi ilmuNya.

[248] Dan Nabi mereka, berkata lagi kepada mereka: Sesungguhnya tanda kerajaan Talut itu (yang menunjukkan benarnya dari Allah) ialah datangnya kepada kamu peti Tabut yang mengandungi (sesuatu yang memberi) ketenteraman jiwa dari Tuhan kamu dan (berisi) sebahagian dari apa yang telah ditinggalkan oleh keluarga Nabi-nabi Musa dan Harun; peti Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya peristiwa kembalinya Tabut itu mengandungi satu tanda keterangan bagi kamu jika betul kamu orang-orang yang beriman.

[249] Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah dia dari pengikutku dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya dia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar.

[250] Dan apabila mereka (yang beriman itu) keluar menentang Jalut dan tenteranya, mereka berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami! Limpahkanlah sabar kepada kami dan teguhkanlah tapak pendirian kami serta menangkanlah kami terhadap kaum yang kafir

[251] Oleh sebab itu, mereka dapat mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah dan Nabi Daud (yang turut serta dalam tentera Talut) membunuh Jalut dan (sesudah itu) Allah memberikan kepadanya (Nabi Daud) kuasa pemerintahan dan hikmat (pangkat kenabian) serta diajarkannya apa yang dikehendakiNya dan kalaulah Allah tidak menolak setengah manusia (yang ingkar dan derhaka) dengan setengahnya yang lain (yang beriman dan setia) nescaya rosak binasalah bumi ini; akan tetapi Allah sentiasa melimpah kurniaNya kepada sekalian alam.

[252] Itulah ayat-ayat keterangan Allah yang kami bacakan ia kepadamu (wahai Muhammad) dengan benar dan sesungguhnya engkau adalah salah seorang dari Rasul-rasul (yang diutuskan oleh) Allah.

Pendahuluan.

Kisah Talut dan Jalut menjadi paparan abadi dari al Quranul Karim yang memerlukan perhatian dan renungan para pejuang untuk terus membongkar rahsia pelajaran dan pengajarannya. Antara kandungannya ialah;

  1. Tabiat Yahudi yang suka membantah perintah Allah dan nabiNya dan membuat tuntuntan yang tidak beradab.
  2. Cara dan corak ujian bagi pembersihan dan penapisan saf.
  3. Kedudukan nilai “dengar dan taat” umat Islam kepada kepimpinan.
  4. Kemenangan yang datang selepas kesabaran, keteguhan dan keikhlasan.
  5. Kejayaan tidak dicapai dengan bilangan yang ramai. Sebaliknya, mengikut kadar perhubungan dengan Allah serta iman dan taqwa di hati.
  6. Keutamaan berdoa dan kesannya ketika pertembungan.

Huraian:

1.Tabiat Yahudi :

  • Pertanyaan dan permintaan mereka adalah digerakkan oleh perasaan ego dan sombong terhadap nabi-nabi.
  • Membangkang dan menolak perintah Allah dan nabiNya.
  • Malas dan memberontak serta bijak mencipta alasan.
  • Banyak bercakap dan suka membesarkan apa yang berlaku.
  • Ujian Allah yang banyak mengenai mereka supaya tiada alasan dan hujah lagi bagi mereka.
  • Beranggapan bahawa mereka lebih layak untuk berkuasa lantaran sifat sombong dan suka memperlekehkan orang lain.
  • Beranggapan kemewahan harta benda sebagai neraca pertimbangan bagi kelayakan menjadi pemimpin.
  • Menjadikan peperangan di jalan Allah sebagai landasan untuk mendapat keuntungan diri.
  • Selalu meminta-minta petanda dan pembuktian dengan hanya dengan tujuan persendaan.
  • Tidak boleh menerima sifat keilmuan dan kekuatan ( kemampuan ) sebagai faktor pemilihan ketua.
  • Justeru, mereka menggalakan cara hidup yang jahil, malas dan pasif.
  • Payah untuk beriman dalam banyak hal lantaran sifat nifaq dan tidak jujur.

2. Penapisan dan pembersihan Saf.

1. Penapisan pertama: Menerima perintah Allah.

]فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمْ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلاَ قَلِيلاَ مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ [.

“ Maka apabila perang itu diwajibkan atas mereka, mereka membelakangkan kewajipan itu, kecuali sebahagian kecil dari mereka dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. ”

Syariat peperangan untuk menguji mereka yang mempunyai niat yang baik dan jujur dan mereka yang tidak berniat demikian yang hanya bijak dan berkata-kata bahkan hanya mempermain-main dan mempersenda-senda urusan agama.

Di siri yang pertama ini pun telah ramai yang gugur dan hanya sekumpulan kecil sahaja yang menyahut dan menyambut.

2. Penapisan kedua: Mematuhi perintah kepimpinan.

] فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلاَ مَنْ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلاَ قَلِيلاَ مِنْهُمْ [.

“Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah dia dari pengikutku dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya dia dari pengikutku, kecuali orang yang menceduk satu cedukan dengan tangannya. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka.”

Talut membuat arahan supaya tidak mengambil minuman yang banyak dan tidak duduk lama di sungai itu kerana ;

· mereka akan leka dan tidak meneruskan perjalanan.

· Lewat melaksanakan tugasan.

· Malas dan bertangguh-tangguh.

· Terlekat dengan kesenangan duniawi.

· Menggangu kesihatan kerana mereka dalam keletihan.

Di peringkat ini, ramai pula yang gagal melepasi ujian lalu tidak meneruskan perjuangan. Hanya sekumpulan kecil yang lulus dan melayakkan diri ke medan.

3. Penapisan ketiga : Ujian di medan yang sebenar.

]فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لاَ طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ [(249)

“ Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah (sentiasa) bersama-sama orang-orang yang sabar.”

Di sini sekali terjadinya ujian terhadap keimanan dan kesabaran apabila benar-benar berhadapan dengan kumpulan musuh yang kuat dan besar. Bagi mereka yang berjiwa lemah, kekuatan lahiriyah musuh itu cukup untuk menghilangkan pertimbangan lalu mengambil sikap menarik diri. Bagi mereka yang teguh pendirian, kekuatan dan kebesaran Allah lebih dipercayai dan diharapkan. Inilah kemuncak kesabaran dan kesabaran inilah yang akhirnya mengundang kemenangan dan pertolongan Allah.

Pengajaran:

  • Mengasaskan segala amalan di atas keikhlasan dan ketaqwaan yang tinggi sebagai tapak yang kukuh mempertahankan Istiqamah dalam perjuangan.

  • Sentiasa berusaha untuk meningkat iman dengan mencari wasilah-wasilah yang menuju kepadanya.

  • Berwaspada dengan lubang masuk syaitan ke dalam diri manusia seperti harta, nafsu, malas, ego serta sukakan kemasyhuran dan penonjolan.

  • Berdisiplin, bersungguh-sungguh, serius dan bersikap positif dalam melaksanakan tugasan.

  • Niat mencari ganjaran dan keredhaan dari Allah sentiasa hadir dalam setiap langkah perjuangan.

  • Memperbayakkan doa dan munajat sebagai lambang pergantungan yang tinggi kepada kuasa Allah swt.

  • Mengambil kisah al quran sebagai penghibur dan pemangkin semangat juang.

والله ولي التوفيق

Khamis, 17 Disember 2009

Selamat Tahun Baru … Segeralah Berkebajikan ...


Selamat datang tahun baru 1431H ! Selamat tinggal 1430H dengan segala suka, duka, baik dan buruk dalamnya. Beruntung mereka yang mengisinya dengan ketaatan. Rugilah mereka yang mencemarinya dengan maksiat.

Kita mungkin lupa kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan. Namun Tuhan tidak pernah lalai dam lupa. Al Quran membawa gambaran penyesalan manusia ketika menerima catatan amalnya;

{وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا} [الكهف:49].

" Mereka berkata : Alangkah celakanya kita. Apa hal kitab ini ! Tidak ditinggalnya sekecil-kecil perkara dan sebesarnya. Semua dihintungnya. Mereka dapati amalnya tiba. Tuhanmu tidak menzalimi sesiapa pun.

Sungguh penting untuk bersegera melakukan amal baik sebelum terhalang dari berbuat demikian. Kemalangan atau kesibukan boleh datang mengganggu bila-bila masa sahaja. Ketika itu tiada guna lagi berazam untuk berbakti jika diberi peluang sekali lagi. Maka berbaktilah ketika peluang terbuka ini. Berbaktilah dengan masa ketika lapang, dengan tenaga ketika sihat, dengan harta benda ketika berada, dan dengan sisa-sisa kehidupan sebelum dijemput kembali kepada tuhan.

Dalam sebuah hadith disebut:

((بادروا بالأعمال سبعًا: هل تنتظرون إلا فقرًا مُنْسيًّا، أو غنى مطغيًا، أو مرضًا مفسدًا، أو هِرَمًا مفنِّدًا، أو موتًا مجهزًا، أو الدجَّال فشرُّ غائب ينتظر، أو الساعة، والساعة أدهى وأمر)).[1]

Bermaksud : " Bersegeralah melakukan amal sebelum tiba tujuh perkara. Adakah kamu menanti kefaqiran yang menjadikan kamu lupa ( untuk beribadat ), atau kekayaan yang menjadikan kamu melampau, atau sakit yang merosakkan, atau saat tua yang meletihkan, atau kematian yang kamu disiapkan (untuk ditanam), atau dajjal maka itulah seburuk-buruk perkara mendatang yang ditunggu, atau tiba kiamat maka itu adalah paling celaka dan petaka."

Al Hafiz Ibn Rajab mengulas : Maksud perkara ini semua ialah saat-saat yang boleh menyekat manusia dari beramal. Sebahagiannya adalah urusan peribadi seseorang seperti faqir, kaya, sakit, tua dan mati. Bakinya adalah bala umum iaitu keluar Dajjal ada bangkitnya qiamat. Qiamatlah yang paling dahsyat kerana tiada guna lagi amal selepasnya.

Allah berfirman :

{يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ} [الأنعام:158].

Bermaksud : " Pada hari tibanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran tuhanmu, tiada lagi berguna iman seseorang yang belum beriman sebelumnya atau untuk berusaha mendapat kebaikan dari imannya. Katakanlah ( wahai Muhammad saw ! ) Kamu tunggulah ! Sesungguhnya kami juga menunggu ".

Hadith lain pula menyebut :

عن أبي هريرة، عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: ((لا تقوم الساعة حتى تطلع الشمس من مغربها، فإذا طلعت ورآها الناس آمنوا أجمعون فذلك حين لا ينفع نفسًا إيمانها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرًا)). [2]

Bermaksud: " Tidak bangkit Qiamat sehingga munculnya matahari dari barat. Apabila ia muncul dan manusia semua dapat melihatnya, tiada lagi berguna iman seseorang yang belum beriman sebelumnya atau untuk berusaha mendapat kebaikan dari imannya. "

Sabda Rasulullah saw lagi :

((ثلاث إذا خرجن لم ينفع نفسًا إيمانها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرًا: طلوع الشمس من مغربها، والدجال، ودابة الأرض)) [3]

Bermaksud : " Tiga peristiwa apabila berlaku, tiada lagi berguna iman seseorang yang belum beriman sebelumnya atau untuk berusaha mendapat kebaikan dari imannya ; keluar matahari dari sebelah barat, Dajjal dan binatang pelik yang merangkak di bumi ".


[1] أخرجه الترمذي (4/478، 479) رقم (2306) وقال: حسن غريب وضعفه الألباني كما في السلسلة الضعيفة رقم (1666).

[2] أخرجه البخاري (7/191) كتاب الرقاق، ومسلم (1/137) رقم (157).

[3] أخرجه مسلم (1/138) رقم (158).

Rabu, 16 Disember 2009

Keibubapaan Dalam Sinar Islam

Naluri Ingin dan Kasihkan Anak-Anak.

Kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anak adalah naluri dan fitrah manusiawi. Naluri dan fitrah ini sebenarnya sangat murni. Anak-anak adalah cahaya rumahtangga, kehadirannya adalah penyejuk mata dan memilikinya bak permata berharga. Ia adalah anugerah Allah paling istimewa kepada pasangan suami isteri.

Cuma seperti naluri dan fitrah yang lain, jika tidak disinari pancaran cahaya al Quran dan terdidik dengan ajaran Islam, pasti ia akan pudar dan tercemar kerana syaitan akan mengambil kesempatan menyelewengkan fitrah yang murni. Akhirnya, Ibubapa yang sepatutnya menumpahkan kasih sayang dan menjamin kesejahteraan anak-anak, tiba-tiba menjadi punca kepada malapetaka dan bencana kepada masa depan mereka.

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه . رواه البخاري ومسلم

Bermaksud : Dari Abu Hurairah r.a sabda Rasulullah saw : Setiap bayi yang lahir, kelahirannya adalah mengikut fitrah ( naluri yang suci murni iaitu Islam ). Tiba-tiba Kedua ibubapanya mengubahnya menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi.

وعن عياض بن حماد قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الله عز وجل إني خلقت عبادي حنفاء فجاءتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم . رواه مسلم .

Bermaksud : Dari ‘Iyyaadh ibn Hammad r.a pula, sabda Rasulullah saw : Allah berfirman : Sesungguhnya aku telah mencipta hamba-hambaku suci bersih ( muslim ) tiba-tiba datanglah syaitan-syaitan lalu menyesatkan mereka dari agama mereka.

Bapa mithali.

Al Quran memaparkan kepada kita kisah tauladan manusia pilihannya bagaimana mereka menghargai nikmat mendapat anak sebagai anugerah Allah. Para nabi-nabi a.s adalah bapa-bapa mithali sebagaimana mereka juga suami-suami mithali.

Firman Allah swt :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً . سورة الرعد : 38

Menjadi sunah nabi-nabi berkahwin dan membina kehidupan keluarga Islam. Sabda Rasulullah saw :

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم " أربع من سنن المرسلين: التعطر والنكاح والسواك والحناء " رواه أحمد

Bermaksud : “ Empat perkara menjadi sunnah ( cara hidup ) para rasul ; memakai bauan wangi, berkahwin, menggosok gigi dan memakai inai “

Al Quran mencerita kisah Nabi Ibrahim as hanya menjadi bapa ketika tuanya. Nabi Ibrahim a.s berhijrah meninggalkan ibubapa dan kaum keluarganya, kampung halaman dan negeri asalnya kerana kekufuran mereka setelah lama berda’wah mengajak mereka ke jalan Allah. Baginda a.s kesunyian kerana tidak mempunyai anak dan bimbang pula tiada pewaris kepada perjuangannya. Lalu memohon dari Allah agar dikurniakan anak yang soleh yang boleh mewarisi agama dan perjuangannya. Allah mengurniakan kepada baginda ketika tuanya Ishak dan Ismail a.s.

al Quran menceritakan ;

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ ( 99 ) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ( 100 ) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ( 101 ) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ( 102 ) سورة الصافات

(( Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".))

Demikianlah Allah mengurniakan kepada baginda anak yang benar-benar mewarisi agama, keyakinan dan perjuangannya dengan penuh taat kepada perintah Allah hingga sanggup menjadi korban sembelihan kerana menunaikan perintah Allah.

Lebih dari itu, Nabi Ibrahim memohon supaya semua zuriat keturunannya menjadi pemimpin orang beriman.

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ ( 124 ) البقرة .

(( Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".))

Ketika meninggalkan isteri dan anaknya di wadi kontang ( Mekah ), baginda berdoa semoga zuriat baginda dipelihara Allah agar mereka berbakti kepada Allah dan dimurahkan rezki.

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ ( 37 ) رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللّهِ مِن شَيْءٍ فَي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء ( 38 ) الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء (39 ) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ( 40 ) سورة إبراهيم

((Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan rezekikan lah untuk mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do'a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankan do'aku. ))

Demikian juga Nabi Zakaria a.s yang mahukan anak untuk menghidupkan suasana Islam dan ketaatan di dalam keluarganya, yang hidup melakukan kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan khusyu’nya. Allah swt mengurniakan kepadanya Yahya, seorang sangat taat berbakti.

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (90) سورة الأنبياء

(( Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do'anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.))

Ibu Mithali.

Ibu tempat bergantungnya kasih sayang anak dan manusia yang paling rapat dengan si anak. Justeru, kefahaman dan kesedaran ibu terhadap peranan dan tanggungjawabnya dalam melahirkan generasi islam amatlah penting.

Penyair Ahmad Syauqi menyebut ;

اَلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِنْ أَعْدَدْتَهَا * أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ

“Ibu sebenarnya institusi persekolahan tersendiri. Jika engkau berjaya mempersiapkanya, pasti engkau berjaya mempersiapkan suatu bangsa yang tinggi budi pekertinya .”

Perhatikan al Quran al Karim memaparkan bagaimana cita-cita dan kehendak seorang ibu yang solehah

.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (36 ) سورة آل عمران .

(( Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamakan dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk". ))

Lihatlah bagaimana Isteri Imran ingin melihat anak di dalam kandungannya lahir sebagai seorang yang bebas berkhidmat kepada agama Allah. Alangkah dukacitanya dia apabila melahirkan anak perempuan kerana sangkaannya anak perempuan tidak sebebas anak lelaki dapat berkhidmat kepada agama. Sebaliknya, Allah memaqbulkan harapannya dengan menjadikan anak perempuannya, Maryam memberi sumbangan yang paling berharga kepada umat zamannya apabila melahirkan Isa a.s dengan izin Allah.

Seorang Ibu solehah adalah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang meniupkan semangat juang dan jihad kepada anaknya, Abdullah bin al Zubair yang menentang kerajaan zalim dan fasiq ketika itu sehingga dia terbunuh. Asma’ berkata : " Matilah sebagai seorang yang mulia, atau hiduplah sebagai seorang yang perkasa ! Jangan kamu rela hidup dalam kehinaan kerana mati itu suatu yang pasti ! "

Seorang ibu solehah adalah seperti Khunsaa’ yang mempunyai tiga anak lelaki, satu demi satu gugur syahid dimedan jihad. Semasa anak pertama dan keduanya syahid dia ketawa. Namun apabila anak ketiganya syahid dia menangis. Ketika ditanya sebabnya, beliau menjawab : " Aku menangis bukan kerana sedih dengan kematian mereka, sebaliknya kerana tiada lagi anak untuk ku hantar ke medan jihad ".