Khamis, 4 Mac 2010

Lagi Kisah Kasih Sayang Nabi saw


Dari Anas bin Malik t, dia berkata: Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah r, tiba-tiba datang seorang badawi, lalu dia kencing sambil berdiri di dalam masjid. Maka para sahabat Rasulullah r berkata: " Berhenti, berhenti !." Maka Rasulullah r bersabda: "Biarkanlah dia, janganlah kamu menghentikannya. Maka mereka membiarkannya hingga selesai kencing.


Kemudian Nabi r memanggilnya seraya bersabda:


إِنَّ هذهِ المسَاجِدَ لَا تصلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا البَوْلِ وَالْقَذَرِ، إِنَّما هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ".

"Sesungguhnya masjid ini tidak elok untuknya air kencing dan najis. Sesungguhnya ia hanya untuk zikir kepada Allah r dan membaca al-Qur`an."

Anas t berkata: " Kemudian baginda saw r menyuruh seseorang membersihnya, kemudian dia mengambil secedok air, lalu menyiramkannya kepadanya.' (Muttafaqun 'alaih).

Di antara gambaran kasih sayang Muhammad r ialah apabila seorang pemuda datang kepada Nabi r, dia berkata: " Ya Rasulullah, izinkanlah aku berzina." Maka para hadirin berpaling melihat kepadanya dan menegurnya dengan kasar dengan berkata: " Diam, diam." Nabi r bersabda: "Marilah dekat". Lalu dia mendekati Baginda. Nabi r bersabda: " Apakah engkau menyukai zina berlaku pada ibumu? Dia berkata: " Tidak demi Allah."

Nabi r bersabda: "Semua manusia tidak menyukainya untuk ibu mereka. Apakah engkau menyukainya untuk puterimu?' Dia menjawab: " Tidak demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah I menjadikan diriku sebagai tebusanmu."

Nabi r bersabda: " Semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk puteri-puteri mereka. Apakah engkau menyukainya untuk adik beradik perempuanmu? Dia menjawab: " Tidak, demi Allah. Semoga Allah I menjadikan diriku sebagai tebusan engkau."

Nabi r bersabda: " Semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk adik beradik perempuannya. Apakah engkau engkau menyukainya untuk ibu saudaramu (sebelah bapamu)? Dia menjawab: " Tidak, demi Allah, semoga Allah I menjadikan diriku sebagai tebusan engkau."

Nabi r bersabda: " Semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk ibu saudara mereka, apakah engkau menyukainya untuk ibu saudaramu (sebelah bapamu)? Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, semoga Allah I menjadikan diriku sebagai tebusan engkau."

Nabi r bersabda: "Dan semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk ibu saudaranya (sebelah ibu)? Dia menjawab: " Tidak, demi Allah, semoga Allah I menjadikan diri sebagai tebusan engkau."

Baginda saw r bersabda: "Dan semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk ibu saudara mereka (sebelah ibu)." Kemudian baginda saw r meletakkan kedua tangannya kepadanya dan berdoa:

"اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَه، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ"، فَلَمْ يَكُنْ بَعْدَ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلى شَيْءٍ. [رَواه أَحْمد].

"Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya."

Maka pemuda itu tidak pernah terlibat dengan kerja zina setelah itu. (HR. Ahmad).

Dengan uslub (pendekatan) yang lembut seperti ini, Nabi r mampu memasukkan hidayah ke dalam hati pemuda ini dan membuatkannya merasa kotor terhadap perbuatan zina yang dia meminta izin untuknya. Hal itu menjadi penyebab kepada kesalihan, istiqamah dan iffah (terjaga maruah) pemuda ini.

Di antara bukti kasih Nabi r terhadap umatnya, terdapat pada hadith yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas t, dia berkata: " Ketika Nabi r sedang khutbah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri, maka baginda saw bertanya tentang dia. Mereka menjawab: " itu Abu Israil bernazar bahawa dia berdiri di panas matahari dan tidak duduk, tidak berteduh dan tidak berbicara, serta berpuasa." Maka Nabi r bersabda:

"مُرُوه فَلْيَتَكَلَّمْ, وَلْيَسْتَظِلَّ, وَلْيَقْعُدْ، وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ" [رواهُ البخَارِيُّ].

Suruhlah dia, hendaklah dia berbicara, berteduh, duduk, dan meneruskan puasanya." (HR. al-Bukhari).

Di antara hal itu, hadith yang diriwayatkan Abdullah bin 'Amr bin 'Ash t, dia berkata: " Nabi r diberitahu bahawa aku berkata: " Demi Allah, aku akan selalu puasa di siang hari dan solat di malam hari selama hidupku." Nabi r bertanya: " Apakah engkau yang mengatakan hal itu? Aku berkata kepadanya: " Sesungguhnya aku telah mengatakannya, - tebusan engkau adalah ayah dan ibuku - wahai Rasulullah. Baginda saw r bersabda:

فَإِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ، وَنَمْ وَقُمْ, وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ, فَإِنَّ الحسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وَذَلِك مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ".

'Engkau tidak mampu melakukan hal itu. Maka puasalah dan berbuka, tidur dan solat, puasalah tiga hari dalam sebulan, maka sesungguhnya kebaikan mendapat balasan sepuluh kali ganda dan hal itu sama seperti puasa setahun."

Dalam satu riwayat: "Apakah benar berita kepadaku bahawa engkau puasa di siang hari dan solat di malam hari? Aku menjawab: " Benar, wahai Rasulullah. Baginda saw bersabda: "Janganlah engkau lakukan, puasa dan berbukalah, tidur dan solatlah. Maka sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu, isterimu punya hak atasmu, tetamu engkau mempunyai hak atasmu, sesungguhnya cukuplah engkau puasa tiga hari setiap bulan. Sesungguhnya untukmu setiap kebaikan dibalas sepuluh kali ganda, maka sesungguhnya hal itu sama puasa setahun. Abdullah t berkata: " Aku memberatkan diri, maka diberatkan kepadaku." Aku berkata: " Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kekuatan." Baginda saw bersabda: " Puasalah seperti puasa nabiyullah Daud u, jangan engkau tambah atasnya." Aku bertanya: "Bagaimanakah puasa Nabi Daud u?". Baginda saw menjawab: " Puasa setengah tahun." Maka Abdullah t berkata setelah lanjut usia: " Alangkah baiknya jika aku menerima keringanan yang diberikan Rasulullah r." Muttafaqun 'alaih.

Kasih Sayang Nabi saw Kepada Umatnya


Nabi r sangat sayang kepada umatnya. Maka tidak pernah baginda saw diberi pilihan di antara dua perkara kecuali memilih yang termudah di antara keduanya, untuk memberikan kemudahan kepada umat dan ingin menghilangkan kesusahan darinya. Sebab itulah Nabi r bersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتا وَلَا مُتَعَنِّتًا, وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا" [رواه مسلم].

"Sesungguhnya Allah I tidak mengangkat aku sebagai seorang yang memaksakan kehendak dan tidak pula keras kepala, tetapi Dia I mengutusku sebagai guru yang suka memberikan kemudahan." (HR. Muslim).

Dan baginda saw bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ, وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ" [رَواهُ أَبُوداودَ وصحَّحَه الألبانيُّ].

"Sesungguhnya Allah I Yang Maha Lembut menyukai kelembutan dan memberikan kerana sikap lembut sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada kekerasan." HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani.

Dan baginda saw r bersabda:

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَمَا نُزِّعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانه" [رَواهُ مسْلِم].

"Tidak ada kelembutan pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak dicabut sifat berlembut ini dari sesuatu kecuali ia mencemarinya."HR. Muslim.

Dan Allah I menggambarkan Nabi-Nya r dengan sifat kasih sayang, Dia I berfirman:

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ [التَّوبة: 128].

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min. (QS. at-Taubah:128)

Di antara kasih sayang Nabi r kepada umatnya, kisah seorang lelaki datang kepada Nabi r, dia berkata: " Aku binasa, wahai Rasulullah r." Baginda saw r bertanya: " Apakah yang telah membinasakan engkau?" Dia menjawab: " Aku menyetubuhi isteriku di bulan Ramadhan." Baginda saw r bertanya lagi: " Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan budak? " Dia menjawab: "Tidak." Baginda saw bertanya lagi, 'Apakah engkau mampu puasa dua bulan berturut-turut? Dia menjawab: " Tidak." Baginda saw bertanya lagi: " Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh (60) orang miskin? Dia menjawab: "Tidak." (Perawi) berkata, 'Kemudian dia duduk, lalu Nabi r diberikan satu karung yang berisi kurma. Maka baginda saw r bersabda, "Bersedekahlah dengan ini." Laki-laki itu bertanya: "Apakah kepada orang yang lebih miskin dari pada kami? Tidak ada di antara dua bukit batu ini (maksudnya kota Madinah) satu keluarga yang lebih memerlukannya dari pada kami." Maka Nabi r tertawa sehingga nampak giginya. Kemudian baginda saw bersabda: " Pergilah beri makan kepada keluargamu." (muttafaqun 'alaih).

Perhatikanlah kasih sayang Nabi r kepada lelaki yang bersalah ini, yang bersetubuh dengan isterinya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya Nabi r bersikap lembut kepadanya dan memperturunkan dari hukuman yang berat kepada yang lebih ringan. Hingga akhirnya baginda saw yang memberikan sesuatu untuk menebus kesalahannya. Bahkan dia r mengizinkan untuknya mengambil pemberian ini dan memberi makan kepada keluarganya, kerana melihat kemiskinannya. Alangkan agungnya kasih sayang nabawi ini, alangkah indahnya kelembutan Nabi Muhammad r.

Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami berkata: 'Ketika aku solat bersama Rasulullah r, tiba-tiba seorang laki-laki bersin. Maka aku berkata: 'Yarhamukallah (semoga Allah I memberi rahmat kepadamu).' Maka semua orang berpaling melihat aku. Aku berkata, "Kenapa kamu memandang saya? Maka mereka memukul tangan ke paha mereka. maka tatkala aku melihat mereka menyuruhku diam, aku pun diam. Maka tatkala Nabi r selesai solat, aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang guru yang lebih baik pendidikan darinya r. Demi Allah, dia r tidak menggertak dan tidak pula memukulku. Baginda saw bersabda:

إِنَّ هذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيْهَا شَيْئٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ, وَإِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيْحُ وَالتَّكْبِيْرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

"Sesungguhnya solat ini tidak patut padanya sesuatu dari pembicaraan manusia. Sesungguhnya ia adalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur`an." (HR. Muslim).

An-Nawawi rahimahullah berkata, 'Dalam hadith tersebut mengandungi keagungan akhlak Rasulullah r yang Allah I bersaksi baginya, kelembutannya kepada orang jahil dan kasih sayangnya kepadanya. Difahami dari hadith ini supaya berakhlak dengan akhlak Nabi r dalam sikap lemah lembutnya kepada orang jahil, pengajarannya yang baik, menyantuni dan mendekatkan kebenaran kepada pemahamannya."

Di antara kelembutan dan kasih sayang Nabi r kepada umatnya, bahwa baginda saw r melarang menyambung puasa kerana bimbang diwajibkan kepada manusia.

Di antara kelembutan Nabi r kepada umatnya, bahwa dia r melaksanakan solat di malam bulan Ramadhan di masjid selama tiga malam atau lebih, hingga berkumpul di belakangnya jemaah yang banyak. kemudian baginda r tidak keluar kepada orang ramai setelah itu kerana bimbang solat ini diwajibkan kepada manusia.

Di antara bukti kasih Nabi r kepada umatnya, bahwa baginda saw r dan sahabatnya masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba ada tali yang diikat di antara dua tiang. Baginda saw bertanya, 'Tali apa ini.' Mereka menjawab, 'Ini adalah tali Zainab, apabila dia merasa letih,dia bergantung dengannya.' Nabi r bersabda:

حُلُّوهُ، لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ، فَإِذَا فَتَرَ، فَلْيَقْعُدْ" [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ]

'leraikan ikatan tali ini, seseorang darimu hendaklah solat sekadar kemampuannya. Apabila dia merasa letih hendaklah dia duduk." (Muttafaqun 'alaih).

Rabu, 3 Mac 2010

Kehidupan Nabi SAW


Sesungguhnya Nabi r amat mengetahui hakikat dunia, bahwa ia cepat hilang dan berlalu pergi. Maka baginda hidup di dunia seperti kehidupan orang-orang miskin, bukan seperti kehidupan orang-orang kaya yang hartanya melimpah ruah. Lapar di suatu hari, baginda sabar, dan kenyang di suatu hari maka baginda bersyukur.

Rasulullah saw telah menjelaskan kepada umatnya akan bahayanya fitnah dunia dengan tenggelam dalam kesenangan dan keindahannya, Baginda saw bersabda :

"إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ, وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخِلَفُكُمْ فِيهَا، فَنَاظِر مَا تَعْمَلُونَ, فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ, فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ" [رواه مسلم].

"Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau, sesungguhnya Allah mejadikan kamu sebagai khalifahnya di situ lalu Dia akan melihat apa yang kalian lakukan di dalamnya. Maka hati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah kalian terhadap godaan kaum wanita. kerana sesungguhnya fitnah pertama yang terjadi pada kaum bani israil adalah fitnah wanita." (HR. Muslim)

Baginda mengetahui bahwa sesungguhnya dunia adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak punya rumah dan syurga bagi orang yang tidak punya bahagian di akhirat kelak. Baginda saw bersabda: "Ya Allah sesungguhnya tidak ada kehidupan yang hakiki- kecuali kehidupan di akhirat" (Muttafaq 'alaih) .

Oleh kerana itu baginda menjadikan semua keinginan dan cita-citanya hanya untuk akhirat dan mengosongkan hatinya dari kesibukan dunia, sehingga dunia mengejar baginda pada hal baginda saw menghindarinya. Baginda saw bersabda:

"Perumpamaanku dengan dunia adalah seperti seorang musafir yang berteduh dibawah sebuah pohon kemudian dia pergi meninggalkannya (HR. tirmidzi dan ia berkata hadits ini hasan shahih).

'Amr bin Harits saudara lelaki Juwairiyah isteri Rasulullah saw, berkata: "Ketika Rasulullah saw. meninggal baginda tidak meninggalkan harta warisan berupa dinar dan dirham, juga tidak meninggalkan hamba sahaya baik laki-laki mahupun perempuan, Baginda hanya meninggalkan seekor keledai putih yang dulu menjadi kenderaan baginda dan satu senjata, serta sebidang tanah yang disedekahkan di jalan Allah" (HR. Buhkari).

Inilah harta peninggalan orang yang paling mulia di alam semesta ini. Semoga Allah selalu melimpahkan salawat dan salam kepada baginda yang menolak unuk menjadi raja dan rasul tapi memilih untuk menjadi hamba dan rasul. Diriwayakan oleh Abu Hurairah ra. bahwa dia berkata: " Jibril pernah duduk di hadapan baginda kemudian ia mendongak ke langit tiba-tiba ada seorang malaikat yang turun lalu Jibril berkata padanya: Ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke dunia sejak dia diciptakan kecuali pada saat ini, ketika telah sampai dia berkata: wahai Muhammad! Aku diutus oleh Tuhan-Ku untuk memberikan pilihat untukmu, apakah kamu ingin dijadikan sebagai seorang raja ataukah sebagai hamba dan Rasul? Maka baginda menjawab: "Bahkan aku ingin menjadi seorang hamba dan rasul" (HR. Ibnu Hibban dan disahihkan oleh Al Abani).

Begitulah kehidupan baginda yang didasarkan atas tawadhu' dan zuhud serta merasa cukup dengan yang ada. 'Aisyah ra. Berkata: " Ketika Rasulullah saw. wafat di rumah baginda saw tidak ada makanan yang boleh dimakan kecuali sedikit gandum yang aku makan dalam waktu yang cukup lama sehingga menjadi menjadi rosak" (Muttafaq alaih).

Ketika Umar bin Khatab ra. menyebutkan tentang kemegahan yang diperolehi oleh manusia, dia berkata: " Pada hari ini aku melihat Rasulullah saw. kelaparan kerana tidak mendapati kurma lama yang boleh mengisi perutnya" (HR. Muslim).

Dari ibnu Abbas ra , diriwayatkan Rasulullah saw dan keluarganya pernah beberapa malam kelaparan tidak punya sesuatu yang disantap di malam hari dan paling banyak yang mereka miliki adalah roti gandum (HR. Tirmizi dan ia berkat hadis ini hasan sahih).

Baginda terbiasa duduk dan tidur di atas tikar kasar, Umar bin Khatab pernah masuk ke rumah baginda dan baginda sedang duduk di atas tikar kasar, lalu aku duduk dan baginda hanya mengenakan kain sarung dan tikar tersebut memberi bekas di pinggang baginda, dan aku melihat sebungkus gandum dan kacang qardh (sejenis kacang ) yang ada di penjuru kamar baginda serta belulang yang tergantung, lalu aku menangis. Baginda bertanya, "Wahai Ibnu Khatab kenapa engkau menangis?" aku menjawab: Wahai nabi Allah, bagaimana saya tidak menangis sungguh tikar ini telah meningglakan bekas di tubuhmu, dan tempat penyimpanan barangmu tidak berisi kecuali sangat sedikit, sedangkan raja rom dan Parsi bergelumang dengan khazanah harta. Padahal engkau adalah Nabi pilhan Allah, dan hanya ini yang engkau miliki!

Maka Nabi r bersabda:

يَا ابْنَ الخَطَّابِ! أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَنَا الْآخِرَةُ وَلَهُمُ الدُّنْيَا؟

'Wahai Ibn Khathab, apakah engkau tidak redha bahawa akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?' (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Mundziri).

Selasa, 2 Mac 2010

Keberanian Nabi SAW


Nabi r adalah manusia paling berani. Ini terbukti saat baginda saw berdiri sendirian menghadapi kekuatan kufur, mengajak kepada tauhid dan ikhlas dalam ibadah. Maka orang kafir menentangnya, memeranginya dari satu panahan, menyakitinya, berkonspirasi untuk membunuhnya, namun semua itu tidak membuatnya gentar dan tidak mengendurkan semangatnya. Sebaliknya menambah semangatnya dalam berdakwah dan berpegang teguh dengan kebenaran yang dipegangnya. Baginda saw bersabda dengan tegas, memberikan tentangan kepada orang-orang zalim di muka bumi:

وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ, حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ أَهْلِكَ دُونَهُ".

"Demi Allah, jikalau mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini nescaya aku tidak akan meninggalkannya sehingga Allah I memenangkannya atau aku binasa kerananya."

Dari Anas bin Malik t, dia berkata: " Rasulullah r adalah manusia terbaik, manusia paling pemurah, manusia paling berani. Pada suatu malam, orang ramai merasa terkejut kerana mendengar satu suara tinggi. Maka orang-orang menuju ke arah tempat datangnya suara itu. Namun Rasulullah r ditemui menuju pulang dan dia r telah mendahului mereka ke arah tempat datangnya suara. Baginda r berada di atas kuda Abu Thalhah dan di lehernya ada pedang, dan baginda r bersabda: " Jangan takut, jangan takut."

An-Nawawi rahimahullah berkata: " Dalam hadith ini ada beberapa faedah: di antaranya, keberanian Nabi r kerana segeranya keluar menuju musuh dan mendahului semua orang, di mana baginda mencari berita dan kembali sebelum sampainya manusia lain.

Dari Jabir t, ia berkata, " Di perang Khandaq (parit) sedang kami menggali parit, tiba-tiba ada batu besar yang sangat keras. Mereka datang kepada Nabi r sambil berkata, " Ini ada batu besar yang menghalangi di parit." Nabi r bersabda: " Aku turun." Kemudian baginda berdiri, sedangkan perutnya diikat dengan batu, dan kami sudah tiga hari tidak merasakan makanan. Maka Rasulullah r mengambil cangkul, memukul batu besar, tiba-tiba batu itu hancur berkeping-keping. (HR. al-Bukhari).

Maksudnya, batu besar yang para sahabat tidak mampu memecahkannya ini, berubah menjadi kerikil kecil yang berhamburan kerana kerasnya pukulan Nabi r. Ini bukti menunjukkan kekuatan Nabi r.

Sesungguhnya Nabi r memiliki keberanian, keteguhan, ketegaran menghadapi huru hara walau seberat mana pun. Baginda di tempat tertinggi dalam hal ini yang tidak ada seorangpun yang menyerupainya.

Kerana inilah, Nabi r terlibat langsung dalam beberapa peperangan di setiap kehidupan jihadnya. Tidak pernah sekali pun baginda r ingin mundur dari tempat itu barang sejengkal pun. Posisi yang membuat baginda r selalu menjadi pusat perhatian di antara para sahabatnya. Inilah yang menjadikan baginda saw pemimpin yang ditaati, yang kecil dan besar segera mengikuti isyaratnya. Bukan kerana baginda seorang utusan Allah r sahaja, bahkan tatkala mereka melihat keberanian baginda r dibandingkan diri mereka, tidak ada apa-apanya. Padahal di antara mereka ada para pahlawan yang keberanian mereka dijadikan perumpamaan dalam hal keberanian dan ketangkasan.

Dalam hal ini, Ali bin Abu Thalib t berkata: " kami dahulunya ( di zaman Nabi saw ) , apabila peperangan telah menjadi sengit, dua kumpulan tentera bertembung, kami berlindung dengan Rasulullah r, maka tidak ada seorang pun dari kami yang lebih dekat kepada musuh dari pada baginda.' HR. Ahmad dan an-Nasa`i.

Ali t juga berkata: " Sungguh kami melihat diri kami di perang Badar sedang kami berlindung dengan Nabi r, baginda r adalah yang paling dekat kepada musuh di antara kami. Baginda r adalah manusia paling kuat.' HR. Ahmad.

Dalam perang Uhud, Ubai bin Khalaf maju meluru di atas kudanya ingin membunuh Rasulullah r dan berkata: " Wahai Muhammad, aku tidak selamat jika engkau selamat." Orang ramai berkata : " Ya Rasulullah, bolehlah salah seorang dari kami menyerang dia? " Rasulullah r bersabda: " Biarkanlah dia." Maka tatkala dia sudah dekat, Rasulullah r mengambil pedang dari al-Harits bin ash-Shammah. Baginda menghayungnya ketika para sahabat sudah pecah bertempiaran. Kemudian Rasulullah r menghadapinya, lalu menusuknya di lehernya satu tusukan yang membuatkannya terpelanting jatuh dari kudanya. Lalu dia kembali kepada kaum Quraisy seraya berkata: " Muhammad telah membunuhku." Mereka berkata. " Tidak apa-apa." Dia berkata: " Jikalau dia berhadapan dengan semua manusia, nescaya dia mampu membunuh mereka. Bukankah dia telah berkata: "Aku akan membunuhmu, demi Allah". Jikalau dia meludahiku nescaya dia akan membunuhku." Akhirnya dia meninggal di perjalanan pulangnya.'[1]

Dalam perang Hunain, kaum muslimin bertempiaran lari ketika diserang hendap oleh kaum Hawazin dengan panah sedang Nabi r tetap teguh menghadapi musuh sambil bersabda:

أَنَـا النَّبِيُّ لَا كَـذِبْ أَنَــا ابْـنُ عَبْـدِ المطَّلِبْ

Aku adalah nabi yang tidak bohong. Aku adalah keturunan Abdul Muthalib [2]

Ya Allah, berilah rahmat dan kesejahteraan kepada nabi kami, kekasih kami Muhammad r, kumpulkanlah kami dengannya di negeri kemuliaan, berilah kami minuman dari tangannya yang mulia, minuman yang enak, tidak pernah haus lagi untuk selamanya.


[1] Sirah Nabawi, Ibnu Hisyam 3/174.

[2] Akhlak Nabi r dalam al-Qur`an dan as-Sunnah (3/1341)